Rabu, 08 Februari 2012

KEPEMIMPINAN DALAM MBS


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kementerian Pendidikan Nasional dalam era globalisasi seperti saat ini dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan di tengah arus reformasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Hal ini mengingat bahwa betapa rendahnya mutu pendidikan Nasional baik akademik maupun non akademik, khususnya pendidikan dasar dan menengah.
Masyarakat pada dasarnya telah menyadari bahwa sekarang ini mutu pendidikan sudah menjadi prioritas untuk dapat diwujudkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan secara nasional diantaranya melalui peningkatan manajemen sekolah dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi pendidikan berazaskan desentralisasi dengan pendekatan MBS. Pendekatan MBS dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan efektif. 
Kepemimpinan dalam melaksanakan MBS adalah salah satu bentuk alternatif sebagai kebijakan desentralisasi pendidikan. Kepemimpinan kepala sekolah berpotensi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, efisiensi serta melahirkan manajemen yang bertumpu di tingkat sekolah. Hal ini dimaksudkan  untuk meningkatkan otonomi sekolah, dalam mengelola sekolah dan menciptakan kepala sekolah, guru dan administrator profesional. Kesuksesan untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat dari masing-masing kepala sekolah.
Oleh karena itu kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Maka dari itu, penulis berusaha mengkaji tentang ”Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Sekolah”.
1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka didapat rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Apakah yang dimaksud dengan kepemimpinan?
2.      Bagaimanakah gaya-gaya kepemimpinan?
3.      Bagaimanakah kepemimpinan dapat meningkatkan kinerja?
4.      Bagaimanakah kepemimpinan transformasional dalam MBS?
5.      Seperti apakah kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif?
1.3  Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan.
2.      Untuk mengetahui gaya kepemimpinan.
3.      Untuk mengetahui kepemimpinan dapat meningkatkan kinerja.
4.      Untuk mengetahui kepemimpinan transformasional dalam MBS.
5.      Untuk mengetahui kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif.
1.4  Manfaat
            Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan refrensi dan penambah wawasan dalam hal ilmu MBS khususnya mengenai kepemimpinan dalam MBS.
2.      Bagi penulis, dalam pembuatan makalah ini penulis mendapat pengetahuan mengenai kepemimpinan dalam MBS. Manfaat lain yang diperoleh penulis adalah bisa memenuhi salah satu tugas MBS.
3.      Bagi siswa, makalah ini dapat dijadikan sumber belajar untuk dapat memahami materi pembelajaran khususnya yang berkaitan dengan kepemimpinan dalam MBS.
4.      Makalah ini dapat dijadikan sebagai pedoman khususnya bagi guru dalam mengetahui dan menerapkan sebuah kepemimpinan dalam MBS.




























BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah terjemahan dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata leader yang berarti pemimpin. Kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain untuk meraih suatu tujuan dan mengarahkan sejumlah sumber daya untuk mencapai visi dan misi tertentu (Sriartha & Sudiana, 2009). Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan terhadap para anggota kelompok. Definisi ini mengandung tiga implikasi penting, yaitu (1) kepemimpinan itu melibatkan orang lain, baik itu bawahan maupun pengikut, (2) kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang, (3) adanya kemampuan untuk menggunakan berbagai bentuk kekuasaan yang berbeda-beda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya dengan berbagai cara (dalam Nurkolis, 2002: 153).
Setiap orang adalah pemimpin yang setidaknya bagi dirinya sendiri. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, seseorang juga dapat menjadi seorang pemimpin di organisasi atau masyarakat. Pemimpin merupakan orang yang mampu memimpin suatu organisasi untuk mencapai suatu tujuan dari organisasi tersebut. Karakteristik seorang pemimpin yang efektif (Sriartha & Sudiana, 2009), yaitu sebagai berikut.
  1. Memiliki visi dan misi ke depan.
  2. Cakap secara teknis.
  3. Membuat keputusan yang tepat.
  4. Berkomunikasi dengan baik.
  5. Memberikan keteladanan dan contoh.
  6. Mampu mempercayai orang.
  7. Mampu menahan emosi.
  8. Tahan menghadapi tekanan.
  9. Bertanggung jawab.
  10. Mengenali anggota.
  11. Cekatan dan penuh inovasi.
TIPE-TIPE PEMIMPIN
Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima tipe utama yaitu sebagai berikut.
a.       Tipe pemimpin otokratis
Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak. Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut.
a)      Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi.
b)      Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c)      Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata.
d)     Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.
e)      Selalu bergantung pada kekuasaan formal.
f)       Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
b.      Tipe kepemimpinan militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut.
a)      Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.
b)      Senang kepada formalitas yang berlebihan.
c)      Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan.
d)     Tidak mau menerima kritik dari bawahan.
e)      Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
c.       Tipe pemimpin fathernalistis
Tipe kepemimpinan fathornalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kebapakkan. Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil. Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut.
a)      Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
b)      Bersikap terlalu melindungi bawahan.
c)      Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan.
d)     Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisiatif daya kreasi.
e)      Sering menganggap dirinya maha tau.
d.      Tipe kepemimpinan karismatis
Tipe pemimpin seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar.
e.       Tipe Kepemimpinan Demokratis
Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu. Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut.
a)      Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
b)      Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
c)      Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
d)     Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
e)      Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
f)       Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
g)      Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
2.2  Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya. Secara teoritis telah banyak dikenal gaya kepemimpinan, namun gaya mana yang terbaik tidak mudah untuk ditentukan. Guna memahami gaya kepemimpinan, sedikitnya dapat dikaji dari tiga (3) pendekatan utama, yaitu pedekatan sifat, perilaku dan pendekatan situasional (Suditha, 2011).
1.      Pendekatan Sifat
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin, dalam pendekatan sifat mencoba menerangkan sifat-sifat yang membuat seseorang berhasil. Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa individu merupakan pusat kepemimpinan, kepemimpinan dipandang sebagai sesuatu yang mengandung banyak unsur individu. Penganut pendekatan ini berusaha mengidentifikasikan sifat-sifat kepribadian yang dimiliki oleh pemimpin yang berhasil dan yang tidak berhasil.
Pendekatan sifat berpendapat bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin. Sifat-sifat tersebut ada pada seseorang karena pembawaan atau keturunan sehingga seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir bukan dibuat atau dilatih.
2.      Pendekatan Perilaku
Menurut pendekatan tingkah laku, gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya.
Pendekatan perilaku memfokuskan dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya mempengaruhi orang lain (pengikut). Pendekatan kepemimpinan banyak membahas keefektifan gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh pemimpin. Dalam pembahasan ini antara lain disajikan hasil studi mengenai gaya kepemimpinan yang menggunakan pendekatan perilaku.
a)      Kepemimpinan Otokratif.
Ketika membuat keputusan seorang pemimpin membuat keputusan sendiri tanpa menanyakan opini atau saran dari orang lain. Kepemimpinan otokratif ini memiliki dua varietas yaitu (1) kepemimpinan memberi tahu dan (2) kepemimpinan menjual.
b)      Kepemimpinan Konsultatif.
Ketika membuat keputusan, seorang pemimpin menanyakan opini dan gagasan orang lain dan kemudian mengambil keputusan sendiri setelah mempertimbangkan saran-saran dan perhatian mereka. Kepemimpinan konsultatif memiliki 3 varietas yaitu (1) pemimpin membuat keputusan tanpa konsultasi terlebih dahulu, namun kemudian bersedia memodifikasi karena adanya keberatan pengikutnya, (2) pemimpin memberi usulan sementara dan secara aktif mendorong orang untuk menyarankan cara-cara memperbaikinya, dan (3) pemimpin menggunakan sebuah masalah dan meminta orang lain berpartisipasi dalam mendiagnosis dan mengembangkan bermacam-macam pemecahan umum, namun kemudian membuat keputusan sendiri.
c)      Kepemimpinan Keputusan Bersama
Ketika membuat keputusan seorang pemimpin bertemu dengan orang lain untuk mendiskusikan masalah yang akan diputuskan, kemudian mengambil keputusan secara bersama-sama. Pemimpin tidak mempunyai pengaruh lagi terhadap keputusan terakhir seperti juga peserta lainnya.
d)     Kepemimpinan Delegatif/demokratif
Ketika mengambil keputusan, pemimpin memberi kepada seorang individu atau kelompok, suatu kekuasaan serta tanggung jawab untuk membuat suatu keputusan.
3.      Pendekatan Situasional
Pendekatan situasional hampir sama dengan pendekatan perilaku, keduanya menyoroti perilaku kepemimpinan dalam situasi tertentu. Dalam hal ini kepemimpinan lebih merupakan fungsi situasi daripada sebagai kualitas pribadi, dan merupakan kualitas yang timbul karena interaksi orang-orang dalam situasi tertentu.
Menurut pandangan perilaku, dengan mengkaji kepemimpinan dari beberapa variabel yang mempengaruhi perilaku akan memudahkan menentukan gaya kepemimpinan yang paling cocok. Pendekatan ini menitik beratkan pada berbagai gaya kepemimpinan yang paling efektif diterapkan dalam situasi tertentu. Terdapat beberapa studi kepemimpinan yang menggunakan pendekatan ini antara lain “teori kepemimpinan kontingensi”.
Teori kepemimpinan kontingensi dikembangkan oleh Fiedler dan Chemers, berdasarkan hasil penelitianya pada tahun 1950, disimpulkan bahwa seseorang menjadi pemimpin bukan saja karena faktor kepribadian yang dimiliki, tetapi juga berbagai faktor situasi dan saling berhubungan antara situasi dengan kepemimpinan. Keberhasilan pemimpin bergantung baik pada diri pemimpin maupun kepada keadaan organisasi.
2.3  Kepemimpinan dalam Meningkatkan Kinerja
Sejarah pertumbuhan peradaban manusia banyak menunjukkan bukti bahwa salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlangsungan organisasi adalah kuat tidaknya kepemimpinan. Kegagalan dan keberhasilan organisasi banyak ditentukan oleh pemimpin karena pemimpin merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju ke suatu tujuan yang akan dicapai. Hal ini sejalan dengan pandangan Siagian, 1994 (dalam Suditha, 2011) bahwa arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan haruslah sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pemanfaatan dari segala sarana dan prasarana yang tersedia. Arah yang dimaksud tertuang dalam strategi dan taktik yang disusun serta dijalankan dijalankan oleh organisasi bersangkutan.
Untuk mendapatkan kinerja yang baik dan hasil kerja yang meningkat di suatu organisasi, maka harus memenuhi persyaratan atau memiliki: (1) keahlian dan kemampuan dasar, yaitu sekelompok kemampuan, yang meliputi kemampuan komunikasi, kemampuan teknik, kemampuan konseptual dan lain sebagainya, (2) kualitas pribadi yang meliputi mental, fisik, emosi, watak sosial, sikap, komitmen, integritas, kesadaran, serta perilaku yang baik, (3) kemampuan administrasi meliputi kemampuan menganalisis persoalan, memberi pertimbangan, pendapat, keputusan, mengatur sumber daya, dan berbagai macam kegiatan, lapang dada, sabar, berpartisipasi aktif dalam berbagai aktivitas, dan motivasi yang tinggi.
Dalam rangka melaksanakan MBS, kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki berbagai kemampuan, antara lain yang berkaitan dengan pembinaan disiplin pegawai, pemberian penghargaan, dan pembangkit motivasi.
2.4  Kepemimpinan Transformasional dalam MBS
            Dalam UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akan perlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Perubahan manajemen pendidikan dari sentralistik ke desentralistik menuntut proses pengambilan keputusan pendidikan menjadi lebih terbuka, dinamik, dan demokrasi. Dalam melaksanakan MBS menurut Komite Reformasi  Pendidikan, kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat, partisipatif, dan demokratis. Untuk mengakomodasikan persyaratan ini kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan transformasional (Nurkolis, 2002:171).
            Kepemimpinan transformasional dicirikan dengan adanya proses untuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi dan memberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencari sasaran. Ciri-ciri kepemimpinan transformasional sejalan dengan gaya manajemen model MBS yaitu sabagai berikut.
1.      Adanya kesamaan yang paling utama, yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi, tetapi oleh kesadaran bersama.
2.      Para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi dan bukan kepentingan pribadi.
3.      Adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin.
Tipe kepemimpinan transformasional ini disarankan untuk diadopsi dalam implementasi MBS karena ciri-ciri kepemimpinan transformasional sejalan dengan gaya manajemen model MBS. Namun, saat ini di Indonesia, sekolah sebagai organisasi formal masih digerakkan oleh kekuatan birokrasi, belum didasarkan atas kesadaran bersama. Selama ini kepala sekolah memimpin berdasarkan pesanan atasan. Kepala sekolah pun menerapkan gaya kepemimpinan terserah atasan.
Budaya sekolah seperti ini harus diubah untuk menjamin terlaksananya kepemimpinan transformasional dan implementasi MBS. Langkah utama untuk mengubah budaya sekolah adalah dengan memberdayakan kepala sekolah sebagai pemimpin. Pada era MBS ini, menjadi kepala sekolah harus berbekal kemampuan kepemimpinan, terutama kepemimpinan transformasional (Nurkolis, 2002:173).
Hal-hal yang harus dilakukan kepala sekolah dalam menerapkan kepemimpinan transformasional dalam MBS adalah sebagai berikut:
1.        Kepala sekolah harus mengembangkan visi sekolah secara jelas. Seluruh stakeholder dan terutama anggota dewan sekolah harus dilibatkan dalam perumusan visi. Visi sekolah harus sejalan dengan tujuan utama MBS, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa dan kinerja sekolah secara umum.
2.        Kepala sekolah harus mengajak stakeholder untuk membangun komitmen dan kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai visi, misi, dan tujuan pendidikan.
3.        Kepala sekolah harus lebih banyak berperan sebagai pemimpin daripada sebagai ”bos” yang didasarkan atas kekuasaan.
Berdasarkan hal tersebut, maka kepemimpinan kepala sekolah memegang peranan kunci dalam keberhasilan aplikasi MBS. Bekal kemampuan, keahlian, dan keterampilan menjadi keniscayaan bagi kepala sekolah untuk mampu menjalankan roda lembaganya secara berbasis MBS. Terkait dengan hal tersebut, kepala sekolah harus dipilih dari kalangan guru yang benar-benar memiliki pengalaman, wawasan, dan kompetensi yang sesuai. Kepala sekolah harus mampu menampilkan kepemimpinan tim bersama wakil kepala sekolah dan juga guru. Secara tim, kepala sekolah akan memerankan fungsi memimpin sekolahnya, termasuk dalam kerangka desain strategi dan arah, mengembangkan dan mengoptimalkan rencana perbaikan sekolah, mengukur dan melaporkan kemajuan yang dicapai.
2.5  Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif
Kepala sekolah (Kasek) merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan. Sehubungan dengan MBS, Kasek dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektivitas kinerja. Dengan demikian, MBS sebagai paradigma baru pendidikan dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Kinerja Kepala Sekolah dalam kaitannya dengan MBS adalah segala upaya yang dilakukan dan hasil yang dapat dicapai oleh Kepala Sekolah dalam mengimplementasikan MBS di sekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu, kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut ini.
1.      Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif.
2.      Dapat melakukan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
3.      Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan tujuan pendidikan.
4.      Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah.
5.      Bekerja dengan tim manajemen.
6.      Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
            Pidarta (1988, dalam Mulyasa, 2002:126) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk menyukseskan kepemimpinannya. Ketiga keterampilan tersebut adalah keterampilan konseptual, yaitu keterampilan untuk memhami dan mengoperasikan organisasi; keterampilan munusiawi yaitu keterampilan untuk bekerjasama, memotivasi dan memimpin; serta keterampilan teknik ialah keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik, serta pelengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Lebih lanjut dikemukakan bahwa untuk memiliki kemampuan, terutama keterampilan konsep, para kepala sekolah diharapkan melalui kegiatan-kegiaatan berikut: (1) senantiasa belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja para guru dan pegawai sekolah lainnya; (2) melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana; (3) membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan; (4) memanfaatkan hasil penelitian orang lain; (5) berpikir untuk masa yang akan datang; dan (6) merumuskan ide-ide yang dapat diujicobakan. Selain itu, kepala sekolah harus dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang efekfif sesuai dengan situasi dan kebutuhan serta motivasi para guru dan pekerja lain.



























BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan salah satu sistem dalam rangka pemberian kewenangan kepada kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan implementasi MBS. Kepemimpinan adalah terjemahan dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata leader. Definisi kepemimpinan itu bervariasi sebanyak orang yang mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan itu sendiri.
Kepemimpinan kepala sekolah memegang peranan kunci dalam keberhasilan aplikasi MBS. Koordinasi kepemimpinan Kepala sekolah dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah akan menentukan keberhasilan efektifitas, efisiensi dan produktifitas pendidikan. Perilaku dan sikap kepala sekolah atau pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk bekerjasama dalam kelompok untuk mewujudkan tujuan lembaga atau organisasi. Modernitas organisasi sekolah termasuk pelembagaan MBS telah membangkitkan kesadaran akan esensi dan eksistensi kepemimpinan kepala sekolah.
3.2  Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca agar dapat memahami materi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) khususnya yang berkaitan dengan Kepemimpinan dalam MBS agar dapat mengimplementasikan dengan baik di dalam kegiatan pembelajaran dan saat sudah terjun menjadi guru.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar